Selama ini telah diketahui bahwa kurang lebih tujuh spesies malaria primata dapat menginfeksi manusia, antara lain adalah Plasmodium brasilianum, P.cynomolgi, P. Inui, P. Knowlesi, P. Schwetzi, P. Shortii dan P. Simium. Meskipun demikian, kasus-kasus pada manusia sangat jarang sehingga jarang mendapat perhatian para peneliti. Akhir-akhir ini dilaporkan bertambahnya kasus-kasus manusia terinfeksi P. Knowlesi yang didiagnosa dengan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) di Asia Tenggara. Kasus-kasus P. Knowlesi telah dilaporkan antara lain dari Thailand, yang secara morfologis parasit malaria tersebut mirip dengan morfologi P. Malariae. Di Semenanjung Malaysia ditemukan besarnya infeksi P. Knowlesi pada manusia pada 77 (69,37%) di antara 111 sample darah penduduk, yang secara mikroskopis mayoritas didiagnosis sebagai P. Malariae, juga pada 10 (13,3%) di antara 75 sampel darah monyet Macaca dan 2 (1,7%) spesimen nyamuk Anopheles Cracens. Dari Sarawak, Malaysia juga ditemukan 27,7% P. Knowlesi di antara 960 sampel darah manusia bersumber rumah sakit dan di Sabah pada 83,7% di antara 49 penderita, di mana 4 kasus di antaranya mengalami kematian. Sebelumnya di Kalimatan Malaysia juga dilaporkan adanya infeksi P. Knowlesi pada manusia pada 120 kasus (58%) di antara 208 kasus malaria yang positif secara mikroskopis. Jenis vektor yang ditemukan di kawasan yang sama adalah Anopheles latens yang merupakan anggota An. Leucosphyrus group denngan parasitemia rate 1,18%. Diduga bahwa P. Knowlesi telah menyebar luas di Asia Tenggara sehingga berpotensi menginfeksi manusia.
Plasmodium knowlesi adalah parasit dari genus Plasmodium yang secara alami menginfeksi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Parasit ini banyak ditemui di Asia Tenggara dan sudah menyerang manusia. P. knowlesi ditransmisikan dengan menggunakan nyamuk dari kelompok Anophleles leucosphyrus sebagai vektor perantara, salah satunya adalah Anophleles latens.
Parasit ini memiliki kemampuan untuk bereproduksi setiap 24 jam di dalam darah dan hal ini dapat berpotensi menyebabkan kematian. Manusia yang terinfeksi P. knowlesi cenderung mengalami penurunan jumlah trombosit di dalam darah dan hal ini dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit tersebut. Untuk pemeriksaan atau diagnosis parasit ini, dapat dilakukan pemeriksaan sediaan darah tipis dan tebal kemudian diamati di bawah mikroskop. Penampakan dari P. knowlesi mirip dengan P. malariae, namun biasanya dilakukan pemeriksaan lanjutan secara molekuler dengan menggunakan deteksi PCR Untuk pengobatan, penderita infeksi P. knowlesi dapat diberi obat klorokuin dan primakuin.
Khusus di Kalimatan Indonesia pada tahun 2010 telah dilaporkan adanya 1 kasus terinfeksi P. Knowlesi sebagai kasus import di Australia dan laporan lain menyebutkan 1 kasus lagi pada penduduk lokal. Badan litbang Kesehatan (Sekar Tuti dkk) pada tahun 2012 juga telah mengidentifikasi 2 kasus P. Knowlesi di Kabupaten Tanah Laut yang secara morfologis sangat mirip dengan P. Falciparum dan P. Malariae.
Penemuan-penemuan kasus P. Knowlesi tersebut perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui seberapa besar infeksi spesies malaria kelima tersebut pada manusia di Kalimatan, baik infeksi pada manusia di Kalimatan, baik infeksi pada manusia, kera dan vektornya.
Wilayah Kecamatan Arut Utara merupakan lokasi yang dijadikan tempat studi epidemiologi Plasmodium Knowlesi. Pada bulan Agustus s/d September 2013 ini, tim dari Litbangkes Kemenkes melakukan penelitian Plasmodium Knowlesi.
Sumber : Litbangkes Kemenkes 2013
|